Langsung ke konten
melekinfo

Topik trending

Ketik minimal 2 huruf. Gunakan ↑ ↓ untuk memilih dan Enter untuk membuka.

Terjemahan otomatis oleh Google

Pasar

401 Ribu Orang Kena ISPA karena Asap Karhutla, Anak-anak Paling Rentan

Kasus ISPA akibat asap kebakaran hutan dan lahan melonjak di tujuh provinsi. Ini gejala yang perlu diwaspadai dan cara melindungi keluarga.

Fiki Aprian3 menit baca
Kabut asap menyelimuti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, akhir Agustus 2026
Kabut asap menyelimuti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, akhir Agustus 2026. Foto: Ilham Mufti Laksono via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Angkanya terus bertambah. Kementerian Kesehatan mencatat 401.586 kasus kumulatif infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 2 November 2026. Kasus tersebar di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Pada hari itu saja tercatat 3.906 kasus baru.

Sebagai perbandingan, per akhir September jumlahnya masih sekitar 174 ribu kasus. Dalam sebulan, angkanya lebih dari dua kali lipat.

Poin penting:

  • 401.586 kasus ISPA akibat asap karhutla di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.
  • Yang paling banyak terdampak: anak balita (91.913 kasus) dan anak usia 6–9 tahun (87.704 kasus).
  • Pemerintah menyiapkan 814 rumah oksigen, 1.691 puskesmas, dan 360 rumah sakit rujukan.
  • Segera ke puskesmas bila sesak napas saat sedang beristirahat.

Anak-anak paling rentan

Data Kemenkes menunjukkan kelompok yang paling menderita justru yang paling tidak bisa melindungi diri. Dari total kasus, 91.913 dialami balita dan 87.704 anak usia 6–9 tahun. Lansia di atas 60 tahun menyumbang 56.092 kasus. Kemenkes juga memantau 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta 8.086 pekerja luar ruang.

Menurut laporan NU Online, kasus ISPA di lima provinsi meningkat sejak pertengahan Oktober hingga awal November, dan kasus pneumonia di rumah sakit juga naik. Banjarbaru, Pekanbaru, dan Pontianak termasuk kota yang paling terdampak.

Bukan cuma batuk

Asap karhutla mengandung partikel halus yang bisa masuk jauh ke paru-paru. Selain ISPA dan pneumonia, Kemenkes menyebut paparan asap dapat memperparah asma dan PPOK, menaikkan tekanan darah dan memicu gangguan jantung, serta menyebabkan iritasi kulit, iritasi mata, hingga diare.

“Paparan asap dan partikel debu juga menyebabkan iritasi pada mata.”

Widyawati, Juru Bicara Kementerian Kesehatan

Cara melindungi diri dan keluarga

Berdasarkan anjuran Kemenkes dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, berikut langkah yang bisa dilakukan warga di daerah berasap:

  • Kurangi aktivitas di luar rumah. Tutup jendela dan pintu, dan gunakan penjernih udara bila ada.
  • Pakai masker N95 atau KN95 dengan benar saat harus keluar. Masker kain atau masker bedah biasa kurang efektif menyaring partikel asap.
  • Lindungi kelompok rentan. Saat berkunjung ke Palangka Raya pada 23 Oktober, Menkes meminta agar balita, orang tua, dan ibu hamil tidak keluar rumah, seperti dilaporkan InfoPublik.
  • Jangan mengucek mata yang perih, dan perbanyak minum air bersih.
  • Segera ke fasilitas kesehatan bila mengalami batuk, sesak napas, atau iritasi mata. Tanda bahaya yang disebut Menkes: sesak napas saat sedang beristirahat. Di puskesmas, pasien akan diberi oksigen lebih dulu dan dirujuk ke rumah sakit bila kondisinya memburuk.

Informasi lebih lanjut bisa ditanyakan ke layanan Halo Kemenkes di nomor 1500-567.

Memadamkan api saja tidak cukup

Pemerintah menyiapkan rumah oksigen di tujuh provinsi, terbanyak di Kalimantan Tengah (336 unit), menurut Liputan6. Menkes juga menyebut kasus harian di Palangka Raya sempat mencapai 12.000–15.000 di awal krisis sebelum turun ke sekitar 3.000.

Tapi kritik tetap datang. Anggota Komisi IX DPR Asep Romy Romaya menilai penanganan terlalu fokus pada pemadaman titik api, sementara krisis kesehatannya kurang diperhatikan. Ia mendorong pembagian masker respirator gratis, pos kesehatan keliling, dan ruang aman asap hingga tingkat desa.

Menurut saya, kritik itu tepat. Karhutla datang hampir setiap tahun, dan setiap tahun pula ratusan ribu orang, sebagian besar anak-anak, menghirup asap berminggu-minggu. Rumah oksigen dan masker adalah pertolongan darurat. Yang jauh lebih penting adalah mencegah kebakaran sejak awal, dan menindak tegas pihak yang membakar lahan. Kesehatan paru-paru anak-anak di Kalimantan dan Sumatra tidak boleh terus menjadi biaya rutin dari kebakaran yang sebenarnya bisa dicegah.

Artikel ini bersifat informasi umum. Bila Anda atau keluarga mengalami keluhan pernapasan, segera konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Foto utama: Kabut asap menyelimuti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, akhir Agustus 2026. Foto: Ilham Mufti Laksono via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Bagikan artikel ini:

Jangan ketinggalan berita terbaru

Ikuti MelekInfo dan dapatkan update langsung di ponselmu.

Penulis

Fiki Aprian

Artikel berikutnya

Haji 2027: Pelunasan Rata-rata Turun Jadi Rp23 Juta, tapi Wajib Lolos Cek Kesehatan Dulu

Baca juga