Langsung ke konten
melekinfo

Topik trending

Ketik minimal 2 huruf. Gunakan ↑ ↓ untuk memilih dan Enter untuk membuka.

Terjemahan otomatis oleh Google

Pasar

Ekonomi Tumbuh 5,47 Persen, Kenapa Dompet Belum Ikut Merasakan?

Pertumbuhan kuartal III 2026 melampaui semua perkiraan dan PMI manufaktur tertinggi dalam 31 bulan. Tapi ada yang janggal, dan lapangan kerja belum ikut melonjak.

Fiki Aprian3 menit baca
Warga berbelanja di Sentra Kue Subuh, Pasar Senen, Jakarta
Warga berbelanja di Sentra Kue Subuh, Pasar Senen, Jakarta. Foto: Esther Rossini via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Kamis, 5 November 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada kuartal III 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini jauh di atas perkiraan para ekonom, yang rata-rata memasang angka sekitar 5,2 persen. Bahkan sedikit melampaui target APBN 2026 sebesar 5,4 persen.

Tiga hari sebelumnya, kabar baik lain datang dari pabrik. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur versi S&P Global untuk Oktober melonjak ke 54,0, tertinggi dalam 31 bulan. Pesanan ekspor baru naik paling tajam sejak survei itu dimulai pada 2011.

Di atas kertas, ekonomi kita sedang ngebut. Pertanyaannya: kenapa banyak orang tidak merasakannya?

Poin penting:

  • Ekonomi kuartal III 2026 tumbuh 5,47 persen, di atas target APBN 5,4 persen.
  • Belanja pemerintah tumbuh paling kencang (8,95 persen), konsumsi rumah tangga hanya 5,04 persen.
  • Pesanan pabrik melonjak, tapi penambahan tenaga kerja masih tipis.
  • Ekonom mempertanyakan: tiga mesin utama melambat, kok angka totalnya naik?

Membaca angkanya pelan-pelan

Pertumbuhan per komponen pengeluaran kuartal III 2026: belanja pemerintah 8,95%, investasi 6,06%, PDB 5,47%, konsumsi rumah tangga 5,04%, ekspor 4,59%
Belanja pemerintah tumbuh paling kencang, konsumsi rumah tangga tertinggal. Grafis: MelekInfo. Data: BPS.

Mari bedah dulu. Menurut data BPS yang dirinci Kontan, konsumsi rumah tangga, yang menyumbang hampir 52 persen ekonomi, tumbuh 5,04 persen. Investasi (pembentukan modal tetap bruto) tumbuh 6,06 persen. Belanja pemerintah tumbuh paling kencang, 8,95 persen, didorong antara lain oleh gaji ASN dan program Makan Bergizi Gratis.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tumbuh 5,87 persen dan menjadi penyumbang terbesar. Sektor akomodasi serta makanan-minuman tumbuh paling cepat, 11,22 persen.

Semua itu terlihat sehat. Tapi di sinilah sebagian ekonom mulai mengangkat alis.

Yang bikin janggal

Nailul Huda, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), menunjuk satu hal yang sulit diabaikan. Dibanding kuartal II, pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah sama-sama melambat, tapi angka pertumbuhan totalnya justru naik dari 5,29 persen ke 5,47 persen.

“Dengan kontribusi lebih dari 50 persen, perlambatan konsumsi RT seharusnya menyeret pertumbuhan ekonomi secara total,” katanya, seperti dikutip Jawa Pos.

BPS sendiri sudah membela metodologinya. Mereka menyatakan penghitungan mengikuti standar internasional SNA 2008 dan memakai lebih dari 3.000 jenis data. Saya tidak dalam posisi menuduh angka itu salah. Tapi kritik semacam ini sehat, dan BPS akan makin dipercaya kalau mau membuka penjelasan lebih rinci tentang dari mana tambahan pertumbuhan itu datang.

Tumbuh, tapi lapangan kerja?

Yang menurut saya lebih penting dari perdebatan statistik adalah pertanyaan sederhana: pertumbuhan ini menciptakan berapa banyak pekerjaan?

Data PMI memberi petunjuk yang kurang enak. Pesanan pabrik melonjak, produksi naik paling cepat sejak Maret 2024, tetapi penambahan tenaga kerja hanya tipis, bahkan melambat dibanding September. Pabrik menggenjot mesin, bukan merekrut orang.

“Ekonomi kita ini tumbuh tinggi tapi masih didorong oleh investasi publik.”

Irman Faiz, Lead Economist Bank Danamon

Begitu Irman merangkumnya kepada Bloomberg Technoz. Proyek-proyek prioritas pemerintah, menurutnya, bersifat padat modal, dan dampaknya ke lapangan kerja serta sektor riil baru akan terasa belakangan.

Di sisi harga, inflasi Oktober tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 3,23 persen secara tahunan, sedikit melandai dari September. Tapi kelompok makanan masih naik 0,51 persen dalam sebulan, dengan cabai merah sebagai salah satu penyumbang terbesar. Jadi kalau Anda merasa belanja dapur masih berat, data tidak membantah perasaan Anda.

Jadi, kabar baik atau bukan?

Kabar baik, dengan catatan. Ekonomi yang tumbuh 5,47 persen jelas lebih baik daripada yang melambat. PMI 54 menunjukkan pabrik sedang sibuk, dan itu bukan hal kecil.

Tapi pertumbuhan yang ditopang belanja negara dan proyek padat modal punya batas. Ia bergantung pada kemampuan APBN, dan tidak otomatis mengisi dompet rumah tangga. Ukuran yang lebih jujur untuk kuartal-kuartal ke depan bukan sekadar angka PDB, melainkan apakah pesanan pabrik yang melonjak itu akhirnya berubah jadi lowongan kerja, dan apakah konsumsi rumah tangga kembali menguat dengan sendirinya, bukan karena dipompa.

Sampai itu terjadi, wajar jika angka 5,47 persen terasa lebih nyaring di ruang rapat ketimbang di pasar dan warung.

Foto utama: Warga berbelanja di Sentra Kue Subuh, Pasar Senen, Jakarta. Foto: Esther Rossini via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Bagikan artikel ini:

Jangan ketinggalan berita terbaru

Ikuti MelekInfo dan dapatkan update langsung di ponselmu.

Penulis

Fiki Aprian

Artikel berikutnya

IHSG Anjlok 41% karena Ancaman MSCI: Investor Ritel Harus Bagaimana?

Baca juga