Langsung ke konten
melekinfo

Topik trending

Ketik minimal 2 huruf. Gunakan ↑ ↓ untuk memilih dan Enter untuk membuka.

Terjemahan otomatis oleh Google

Pasar

Bitcoin Ambruk ke US$75 Ribu: Peretasan Binance, ETF, dan Wall Street

Bitcoin sudah turun sekitar 40 persen dari rekornya. Tiga pukulan beruntun menjelaskan kenapa, dan apa artinya bagi 23 juta investor kripto Indonesia.

Fiki Aprian4 menit baca
Koin Bitcoin di atas lembaran uang dolar AS
Koin Bitcoin di atas lembaran uang dolar AS. Foto: David McBee via Wikimedia Commons (CC0)

Bitcoin sedang melewati dua pekan yang berat. Pada Jumat, 6 November 2026, harganya bertengger di kisaran US$75.700, sekitar Rp1,37 miliar per koin. Dibanding rekor tertingginya, sekitar US$126.000 pada Oktober 2025, nilainya sudah terpangkas kira-kira 40 persen.

Penurunan ini tidak terjadi dalam satu hari. Ada dua pukulan beruntun: peretasan terbesar dalam sejarah kripto, lalu ambruknya saham teknologi di Wall Street. Keduanya datang ketika pasar sudah lemah.

Poin penting:

  • Binance diretas sekitar US$6,3 miliar pada 29 Oktober, pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat. Penarikan dana sempat dihentikan.
  • Bitcoin jatuh ke titik terendah enam pekan, dan ETF Bitcoin di AS mencatat arus keluar US$643 juta dalam sehari.
  • Pada 5 November, kejatuhan saham AI di Wall Street menyeret Bitcoin turun 6,2 persen lagi.
  • OJK memastikan tidak ada penarikan massal di bursa kripto Indonesia.

Pukulan pertama: Binance dibobol

Harga Bitcoin: rekor 126.198 dolar AS pada 6 Oktober 2025, 86.633 dolar awal Oktober 2026, 77.446 dolar pada 30 Oktober 2026, 75.692 dolar pada 6 November 2026
Sekitar 40 persen di bawah rekor. Grafis: MelekInfo. Data: Fortune, CNBC, CryptoTicker.

Kamis malam, 29 Oktober waktu dunia, dompet panas (hot wallet) milik Binance, bursa kripto terbesar di dunia, dibobol. Nilai yang dicuri sekitar US$6,3 miliar, atau lebih dari Rp110 triliun. Lembaga analisis blockchain Elliptic, seperti dikutip Reuters, menyebutnya hampir pasti sebagai pencurian terbesar yang pernah diketahui, dari jenis apa pun.

Binance langsung menghentikan penarikan dana. Keesokan harinya, Bitcoin turun 4,1 persen ke US$77.446 menurut CNBC. Ether jatuh 4,4 persen, dan BNB, token milik Binance sendiri, anjlok 6 persen.

Yang paling ditakuti pasar bukan hilangnya uang Binance, melainkan pertanyaan yang lebih mendasar: kalau bursa sebesar itu bisa dibobol, seberapa aman aset yang kita titipkan di bursa? Tim Sun, peneliti senior HashKey Group, menyebut insiden ini bisa membuat investor menilai ulang keamanan aset di bursa terpusat.

Binance membuka kembali penarikan secara bertahap pada 1 November dan mengklaim sudah menutup 95 persen kerugian. Menurut TechCrunch, dalam sembilan jam pertama setelah dibuka, pengguna menarik US$4,6 miliar dan hanya menyetor US$1 miliar. Kepercayaan, ternyata, tidak bisa diganti secepat dana.

Pukulan kedua: investor besar mundur

Sinyal paling jelas datang dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat, instrumen yang selama ini menjadi pintu masuk dana institusi. Pada 30 Oktober saja, ETF Bitcoin mencatat arus keluar US$643 juta, terbesar sejak Juni. Produk milik BlackRock dan Fidelity menjadi yang paling banyak ditinggalkan.

Pasar kripto juga penuh posisi berutang (leverage). Ketika harga turun cepat, posisi-posisi itu dilikuidasi paksa, yang mendorong harga turun lebih jauh. Sekitar insiden peretasan, nilai likuidasi dilaporkan mencapai sekitar US$1,5 miliar.

“Pasar memang sudah tertekan, tapi peretasan Binance menambah satu lapis ketidakpastian lagi.”

Nick Forster, pendiri dan CEO Derive, kepada CoinDesk

Pukulan ketiga: Wall Street ambruk

Ketika Bitcoin mulai pulih ke sekitar US$80.000 setelah pemilu sela AS, datang hantaman berikutnya. Pada 5 November, saham-saham AI dan chip di Wall Street rontok setelah hasil pemilu memunculkan kekhawatiran pembatasan pembangunan pusat data. Nasdaq turun 5,52 persen.

Bitcoin, yang sering dipromosikan sebagai “emas digital” dan pelindung dari gejolak, justru ikut jatuh 6,2 persen ke US$75.723 hari itu. Ether bahkan turun 8,5 persen.

Bagi saya, ini fakta yang paling penting dari seluruh episode ini. Dalam praktiknya, Bitcoin hari ini bergerak seperti saham teknologi berisiko tinggi, bukan seperti emas. Ketika investor panik dan menjual saham AI, mereka juga menjual kripto. Sementara itu, harga emas justru naik pekan ini.

The Fed ikut membayangi

Di latar belakang ada bank sentral AS yang condong ketat. The Fed menahan suku bunga di 3,75–4,00 persen pada 28 Oktober, dengan dua pejabat yang justru meminta kenaikan. Pasar memperkirakan peluang besar kenaikan suku bunga pada Desember. Suku bunga tinggi membuat aset yang tidak memberi imbal hasil, seperti Bitcoin, menjadi kurang menarik.

Bagaimana dengan investor Indonesia?

Indonesia punya basis investor kripto yang sangat besar. Data OJK yang dipaparkan pada 3 November mencatat 23,48 juta investor kripto, dengan nilai transaksi Rp30,56 triliun pada September 2026.

Gejolak global sempat terasa di dalam negeri. Indodax menghentikan sementara deposit dan penarikan sejak 29 Oktober siang karena meningkatnya upaya serangan siber, dan baru pulih penuh pada 31 Oktober malam. Tokocrypto, yang mayoritas sahamnya dimiliki Binance, menyatakan aset pengguna aman.

OJK memastikan tidak terjadi penarikan massal. “Tidak ada rush… tetap tenang, tetapi tetap waspada,” kata Adi Budiarso, pejabat pengawas aset kripto di OJK, seperti dikutip Investortrust.

Lalu, ke mana harga Bitcoin?

Tidak ada yang tahu pasti, dan siapa pun yang mengaku tahu patut dicurigai. Analis memantau level US$76.000, yang disebut sebagai rata-rata harga beli investor jangka pendek, lalu US$73.200 sebagai garis rata-rata 200 hari. Di sisi pesimistis, Christopher Tahir dari CryptoWatch memproyeksikan Bitcoin bisa turun ke kisaran US$50.000–60.000 pada akhir 2026.

Artikel ini bukan saran investasi. Tapi ada tiga pelajaran yang menurut saya berlaku untuk siapa pun yang memegang kripto. Pertama, jangan simpan semua aset di bursa; pertimbangkan dompet pribadi untuk jumlah besar. Kedua, hindari leverage kalau Anda tidak benar-benar paham risikonya, karena likuidasi bisa menghapus modal dalam hitungan menit. Ketiga, gunakan hanya platform yang terdaftar dan diawasi OJK.

Kripto bukan lagi barang baru di Indonesia. Puluhan juta orang sudah memegangnya. Justru karena itu, pekan seperti ini adalah pengingat bahwa volatilitas bukan sekadar angka di grafik, melainkan uang sungguhan milik orang sungguhan.

Foto utama: Koin Bitcoin di atas lembaran uang dolar AS. Foto: David McBee via Wikimedia Commons (CC0).

Bagikan artikel ini:

Jangan ketinggalan berita terbaru

Ikuti MelekInfo dan dapatkan update langsung di ponselmu.

Penulis

Fiki Aprian

Artikel berikutnya

Wall Street Ambruk, Nasdaq Anjlok 5,5 Persen: Ini Penyebab Sebenarnya

Baca juga