Harga Emas Antam Turun 19 Persen dari Rekor, Kenapa Orang Masih Memburunya?
Dari rekor Rp3,1 juta per gram di Januari, emas Antam kini di kisaran Rp2,5 juta. Demamnya belum reda. Ini yang jarang dibahas soal investasi emas.

Kalau Anda membeli emas Antam di akhir Januari 2026, besar kemungkinan Anda sedang kurang bahagia. Pada 29 Januari, harga emas batangan Antam mencetak rekor Rp3.168.000 per gram. Pada 5 November, harganya Rp2.557.000 per gram. Turun sekitar 19 persen dari puncaknya.
Tapi coba tanya orang di sekitar Anda. Emas tetap jadi obrolan, dari grup WhatsApp keluarga sampai konten media sosial. Kenapa demam emas tidak kunjung reda, bahkan saat harganya turun?
Poin penting:
- Harga emas Antam 5 November: Rp2.557.000 per gram, sekitar 19 persen di bawah rekor Januari.
- Dibanding awal 2026, harga beli hanya naik sekitar 2 persen.
- Selisih harga beli dan buyback sekitar 7,8 persen: emas untuk jangka panjang, bukan jual-beli cepat.
- Waspada investasi emas bodong; OJK menyarankan cek 2L, Legal dan Logis.
Dari rekor ke koreksi

Perjalanan emas tahun ini ibarat naik roller coaster. Di awal Januari, harga Antam sekitar Rp2,5 juta per gram. Dalam empat minggu ia melesat ke rekor, didorong harga emas dunia yang sempat menembus hampir US$5.600 per ons. Setelah itu, kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang ketat, dolar yang menguat, dan kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah menekan harga turun.
Hasil akhirnya sejauh ini: dibanding awal tahun, harga beli Antam hanya naik sekitar 2 persen. Bukan bencana, tapi jauh dari cerita “emas pasti untung” yang beredar di bulan Januari.
Pekan ini emas dunia sedikit bergairah lagi. Menurut CNBC, harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan setelah pemilu sela AS melemahkan dolar. Tapi pasar masih menimbang peluang The Fed menaikkan suku bunga lagi pada Desember, kabar yang biasanya tidak disukai emas.
Kenapa orang tetap memburu emas
Ada beberapa alasan, dan tidak semuanya soal harga.
Pertama, yang memborong emas bukan cuma kita. Bank-bank sentral dunia membeli bersih 321 ton emas pada kuartal III 2026, naik 42 persen dibanding tahun sebelumnya, menurut data World Gold Council yang dilaporkan Kitco. Ketika lembaga sebesar itu menimbun emas, wajar kalau orang biasa ikut merasa emas adalah tempat berlindung.
Kedua, emas makin mudah dibeli. Pemerintah dan OJK meluncurkan peta jalan bank emas (bullion) 2026–2031. Pegadaian dan BSI kini mengelola puluhan hingga ratusan ton emas nasabah, dan menurut Investortrust, sepertiga nasabah emas BSI adalah Gen Z. Emas bukan lagi urusan orang tua.
Ketiga, dan ini yang paling manusiawi: takut ketinggalan. Saat harga meroket di Januari, antrean di butik emas Antam mengular sampai muncul jasa titip antre. Antam akhirnya membuat sistem antrean daring, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
“Jadi orang itu kadang pakai jasa titip, antri banyak, dan itu menyebabkan keresahan.”
Handi Sutanto, Direktur Komersial Antam
Hal-hal yang jarang dibahas di konten “investasi emas”
Saya bukan penasihat keuangan, dan tulisan ini bukan ajakan membeli atau menjual. Tapi ada beberapa fakta yang menurut saya sering terlewat.
Selisih harga beli dan jual kembali itu besar. Pada 5 November, Antam menjual emas Rp2.557.000 per gram, tapi harga beli kembalinya (buyback) Rp2.357.000. Selisihnya Rp200 ribu, atau sekitar 7,8 persen. Artinya, kalau Anda beli hari ini dan langsung jual, Anda sudah rugi hampir 8 persen. Emas baru masuk akal untuk jangka panjang.
Aturan pajaknya pernah berubah. Ketentuan PPh atas transaksi emas batangan diperbarui pada 2025, dan penjelasannya bisa berbeda tergantung tempat dan jenis transaksi. Sebagai contoh, Pegadaian menjelaskan bahwa konsumen akhir tidak dikenai PPh 22 saat membeli emas batangan di lembaga bullion. Sebelum bertransaksi besar, tanyakan langsung potongan pajaknya kepada penjual.
Penipuan ikut menumpang tren. Setiap kali emas naik daun, tawaran “investasi emas” dengan imbal hasil pasti bermunculan. OJK punya rumus sederhana yang mereka sebut 2L: Legal (pastikan berizin dan diawasi OJK) dan Logis (curigai janji keuntungan tetap yang tidak masuk akal). Kalau terlalu indah untuk jadi kenyataan, biasanya memang bukan kenyataan.
Emas itu pelindung, bukan mesin uang
Menurut saya, inilah salah kaprah terbesar soal emas: banyak orang memperlakukannya seperti saham yang bisa melipatgandakan uang dalam hitungan bulan. Pengalaman tahun ini membuktikan sebaliknya. Emas bisa turun hampir 20 persen dari puncaknya, dan siapa pun yang membeli karena panik di Januari kini sedang belajar soal itu dengan cara yang mahal.
Emas paling berguna sebagai penyimpan nilai jangka panjang, pelindung saat rupiah melemah atau keadaan tidak pasti. Peran itu tidak berubah. Yang perlu berubah adalah cara kita memandangnya: bukan sebagai jalan pintas jadi kaya, melainkan sebagai salah satu cara menjaga apa yang sudah kita punya.
Foto utama: Tumpukan emas batangan. Foto: Stevebidmead via Wikimedia Commons (CC0).
Apakah artikel ini membantu?
Jangan ketinggalan berita terbaru
Ikuti MelekInfo dan dapatkan update langsung di ponselmu.

Penulis
Fiki AprianArtikel berikutnya
Ekonomi Tumbuh 5,47 Persen, Kenapa Dompet Belum Ikut Merasakan?

Baca juga

Bitcoin Ambruk ke US$75 Ribu: Peretasan Binance, ETF, dan Wall Street
Bitcoin sudah turun sekitar 40 persen dari rekornya. Tiga pukulan beruntun menjelaskan kenapa, dan apa artinya bagi 23 juta investor kripto Indonesia.
Fiki Aprian

Wall Street Ambruk, Nasdaq Anjlok 5,5 Persen: Ini Penyebab Sebenarnya
Saham AI dan chip dijual habis-habisan setelah pemilu sela AS memunculkan kekhawatiran pembatasan pusat data. Nasdaq masuk wilayah koreksi, IHSG ikut tertekan.
Fiki Aprian

IHSG Babak Belur Gara-gara MSCI: Masalahnya Ada di Rumah Sendiri
Asing jual bersih Rp16,88 triliun sepanjang Oktober setelah MSCI mengusulkan status Standalone untuk Indonesia. Yang dipersoalkan bukan ekonomi, melainkan transparansi bursa.
Fiki Aprian

