AHA, BHA, dan PHA Perbedaan, Fungsi, dan Cara Pakai yang Aman
Perbedaan AHA, BHA, dan PHA, fungsi, risiko sinar matahari, serta cara memakainya dengan aman menurut FDA, AAD, dan jurnal dermatologi.

Krim berisi AHA yang dioleskan selama empat minggu membuat kulit relawan lebih mudah memerah akibat sinar ultraviolet (UV). Kepekaannya naik 18 persen, menurut penelitian yang dirangkum FDA, badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat.
Kepekaan terhadap kerusakan sel akibat UV rata-rata menjadi dua kali lipat. Satu minggu setelah pemakaian dihentikan, perbedaan itu tidak lagi bermakna.
Temuan tersebut relevan karena AHA, BHA, dan PHA kini ada di toner, serum, hingga sabun cuci muka. Ketiganya adalah eksfolian kimia, yaitu asam yang melepas sel kulit mati tanpa digosok. Bedanya ada pada jenis asam, cara kerja yang dilaporkan, dan risiko iritasi.
Tulisan ini merangkum penjelasan FDA, American Academy of Dermatology (AAD), dan jurnal dermatologi luar negeri. Cakupannya produk perawatan kulit yang dijual bebas. Peeling di klinik dokter tidak dibahas.
Poin penting:
- AHA (umumnya glycolic dan lactic acid) dan BHA (umumnya salicylic acid) sama-sama mengelupas kulit dan perlu disertai perlindungan matahari menurut FDA.
- Untuk produk AHA, FDA menganjurkan perlindungan dari matahari selama pemakaian dan seminggu sesudahnya.
- PHA diklaim lebih lembut. Satu uji selama 12 minggu menunjukkan manfaat anti-penuaan mirip AHA dengan rasa perih lebih sedikit, tetapi buktinya masih terbatas.
- Retinoid, retinol, dan benzoyl peroxide yang sudah Anda pakai dapat membuat kulit lebih sensitif terhadap eksfoliasi.
Tiga Kelompok Asam, Satu Tujuan
AHA adalah alpha hydroxy acid, BHA adalah beta hydroxy acid, dan PHA adalah polyhydroxy acid, yang ditandai gugus hidroksil lebih dari satu.
Menurut FDA, produk AHA bekerja dengan mengelupas lapisan kulit terluar. Tingkat pengelupasannya bergantung pada jenis dan kadar asam, pH (tingkat keasaman), serta bahan lain dalam produk.
Pengelupasan itu dipakai untuk memperhalus tekstur, meratakan warna kulit, dan membersihkan pori. Cara kerjanya di tingkat sel belum sepenuhnya jelas. Sebuah tinjauan di Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology menyebut mekanisme biologis asam hidroksi masih perlu penjelasan lebih lanjut.
AHA: Glycolic Acid dan Lactic Acid
FDA mencatat AHA yang paling umum di kosmetik adalah glycolic acid dan lactic acid, di samping citric acid dan beberapa senyawa lain.
Produknya dipasarkan untuk menyamarkan garis halus, memperbaiki tekstur dan warna kulit, serta membersihkan pori.
Panel pakar Cosmetic Ingredient Review (CIR), badan swaregulasi industri kosmetik, menilai glycolic dan lactic acid aman dengan tiga syarat.
Kadarnya 10 persen atau kurang, pH produk 3,5 atau lebih, dan formulanya melindungi dari sensitivitas matahari atau petunjuk pakainya menganjurkan perlindungan harian dari matahari.
Risiko utamanya ada pada sinar matahari. FDA menyarankan label “Sunburn Alert” pada produk AHA: gunakan tabir surya, kenakan pakaian pelindung, dan batasi paparan matahari selama pemakaian serta seminggu sesudahnya. Anjuran itu tertuang dalam panduan FDA yang tidak mengikat secara hukum.
FDA menerima 114 laporan efek samping produk AHA pada 1992 sampai Februari 2004. Yang terbanyak adalah rasa terbakar (45 laporan) dan ruam (35).
Reaksi yang lebih serius paling sering muncul pada produk pengelupas kuat atau “skin peeler”. Frekuensi laporan pada tahun-tahun berikutnya jauh lebih rendah.
BHA: Hampir Selalu Salicylic Acid
BHA yang paling sering dipakai di kosmetik adalah salicylic acid, menurut FDA. Ada klaim bahwa BHA mengurangi tampilan garis halus dan memperbaiki tekstur dengan iritasi yang lebih jarang dibanding AHA. Satu catatan: FDA dan tinjauan jurnal tadi sama-sama menyebut salicylic acid secara kimia bukan BHA sejati. Industri tetap melabelinya BHA.
Soal matahari, tinjauan Kornhauser dan kolega mencatat salicylic acid tidak menaikkan kepekaan kulit manusia terhadap UV.
Efek pengelupasnya membuat pengaruh UV tetap perlu dipertimbangkan. FDA meminta kehati-hatian yang sama untuk AHA dan BHA: uji tempel di area kecil, hentikan pemakaian bila perih berkepanjangan, ikuti petunjuk label, dan jangan pakai pada bayi maupun anak.
Dalam studi pada tikus bersama program toksikologi pemerintah AS, salicylic acid justru melindungi dari efek cahaya, sedangkan glycolic acid tidak mengubah risiko kanker akibat cahaya, menurut FDA. Hasil pada hewan belum tentu berlaku pada manusia.
PHA: Lebih Lembut, tetapi Datanya Lebih Tipis
PHA adalah kelompok ketiga. Tinjauan Kornhauser dkk. mencatat gluconolactone, salah satu PHA, bersifat melindungi dari UV dan menangkal radikal bebas, yaitu molekul yang merusak sel.
Bukti soal kenyamanan datang dari uji yang dimuat di jurnal Cutis pada 2004. Rangkaian perawatan PHA dibandingkan dengan rangkaian AHA, dan keduanya memberi manfaat anti-penuaan yang bermakna.
Hanya dua perbedaan yang signifikan secara statistik, keduanya pada minggu ke-12. Kekuningan kulit membaik 17,1 persen pada AHA dan 12,4 persen pada PHA. Kelenturan kulit membaik 13,5 persen pada AHA dan 10,2 persen pada PHA. Rasa perih dan terbakar jauh lebih buruk pada kelompok AHA di minggu ke-6 dan ke-12.
Ada dua catatan. Suplemen jurnal yang memuat studi itu didukung hibah pendidikan dari NeoStrata, produsen perawatan kulit.
Halaman FDA yang dirujuk tulisan ini juga hanya membahas AHA dan BHA, dan panduan resmi setara untuk PHA belum ditemukan. Karena itu, label “lebih lembut” sebaiknya dibaca sebagai temuan awal, bukan kepastian.
Cara Memakainya Tanpa Merusak Kulit
Eksfoliasi tidak cocok untuk semua orang. Dokter kulit anggota AAD menyampaikannya lewat rilis yang dikutip HealthDay pada Januari 2017.
“Pada sebagian orang, eksfoliasi justru memperburuk kulit: kemerahan bertambah dan jerawat muncul.” Dr. Rebecca Tung, profesor madya dermatologi di Loyola University Medical Center, AS (jabatan sesuai laporan HealthDay 2017).
Panduan AAD (diperbarui 6 Februari 2026) dan FDA dapat dirangkum menjadi langkah berikut:
- Cek produk lain. Retinoid resep, retinol, dan benzoyl peroxide membuat kulit lebih sensitif atau mengelupas. Menambah eksfoliasi dapat memperparah kulit kering atau memicu jerawat.
- Sesuaikan dengan jenis kulit. Kulit kering, sensitif, atau rawan jerawat cocok dengan eksfoliator kimia ringan. Kulit berminyak dan tebal boleh memakai yang lebih kuat. Bila kulit Anda gelap atau mudah muncul noda setelah luka, gigitan serangga, atau jerawat, hindari eksfoliasi kuat karena dapat menambah bercak gelap.
- Uji tempel dulu. Oles sedikit di area kecil sebelum memakai di seluruh wajah.
- Oles lembut sekitar 30 detik. Pakai gerakan melingkar kecil, lalu bilas dengan air suam-suam kuku, bukan air panas. Jangan eksfoliasi bila ada luka terbuka atau kulit terbakar matahari.
- Lembapkan segera. Eksfoliasi bisa membuat kulit kering.
- Atur frekuensi. Semakin agresif produknya, semakin jarang pemakaiannya.
- Lindungi dari matahari. FDA menganjurkan tabir surya untuk produk AHA dan BHA. Bagi yang beraktivitas di bawah matahari sepanjang tahun, ini bukan langkah opsional.
Pilih asam berdasarkan kondisi kulit dan produk yang sudah dipakai, bukan karena tren. Mulailah dari satu produk yang ringan, amati reaksi kulit, dan tambah produk lain hanya bila kulit tetap tenang. Jika kemerahan atau perih tidak reda setelah pemakaian dihentikan, tanyakan ke dokter kulit sebelum melanjutkan.
Artikel ini bersifat informasi umum. Bila ada keluhan, segera konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Apakah artikel ini membantu?
Jangan ketinggalan berita terbaru
Ikuti MelekInfo dan dapatkan update langsung di ponselmu.

Penulis
Muhammad Dwiki SeptiantoArtikel berikutnya
Apa Itu Padel dan Kenapa Lapangannya Menjamur di Indonesia?


