Norwegia melarang AI generatif di SD, Indonesia justru memperluasnya. Siapa yang benar?
Pada 19 Juni 2026, Norwegia mengumumkan pembatasan yang nyaris sama dengan larangan: siswa sekolah dasar tidak boleh memakai AI generatif, teknologi semacam ChatGPT yang bisa…

Pada 19 Juni 2026, Norwegia mengumumkan pembatasan yang nyaris sama dengan larangan: siswa sekolah dasar tidak boleh memakai AI generatif, teknologi semacam ChatGPT yang bisa menulis dan menjawab soal.
Menurut Antara, yang mengutip Engadget, aturan itu mencakup kelas 1 sampai 7, atau anak usia 6 sampai 13 tahun. Rencananya aturan berlaku sejak tahun ajaran baru pada akhir Agustus 2026.
Awal Oktober, kabar dengan arah berbeda datang dari Nusa Dua, Bali. Menurut Jawa Pos yang mengutip Antara, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut koding dan AI dibuka mulai kelas 5 SD sampai SMA. Namun baru 25 persen sekolah yang mengajarkannya.
Sekilas, kedua negara berjalan berlawanan. Dalam laporan yang dikutip, pejabat Norwegia berbicara tentang pemakaian AI generatif oleh siswa, sedangkan Kemendikdasmen berbicara tentang mata pelajaran koding dan AI. Pembaca yang punya anak di bangku sekolah perlu tahu isi keduanya.
Poin penting:
- Norwegia nyaris melarang AI generatif untuk siswa usia 6 sampai 13 tahun, mengizinkannya dengan pengawasan guru untuk usia 14 sampai 16 tahun, dan membolehkan remaja 17 tahun ke atas memakainya mandiri.
- Di Indonesia, koding dan AI adalah mata pelajaran pilihan sejak kelas 5 SD. Baru 25 persen sekolah yang mengajarkannya.
- Pemerintah Indonesia juga memiliki pedoman bersama tujuh menteri yang menekankan usia dan kesiapan anak.
- Kedua negara sama-sama menaruh usia dan kesiapan anak sebagai pertimbangan, tetapi dengan cara yang berbeda.
Apa persisnya yang dibatasi Norwegia?
Aturannya berlapis menurut usia. Siswa 6 sampai 13 tahun pada dasarnya tidak memakai AI generatif di sekolah. Usia 14 sampai 16 tahun boleh memakainya hanya di bawah pengawasan guru.
Remaja 17 tahun ke atas boleh memakainya secara mandiri dengan tetap bertanggung jawab, menurut Antara. Media All Things Nordic menegaskan bahwa Norwegia tidak melarang AI sepenuhnya, melainkan memakai pendekatan bertingkat berdasarkan usia.
Perdana Menteri Jonas Gahr Støre, seperti dilaporkan Antara, menyatakan sekolah perlu mengutamakan membaca, menulis, dan berhitung ketimbang ketergantungan pada AI. Pemerintah menilai AI generatif dapat membuat anak melompati tahap penting dalam belajar.
Langkah ini melanjutkan kebijakan sebelumnya. Sejak 2024 Norwegia melarang ponsel pintar di sekolah.
Pemerintahnya menyebut kebijakan itu menurunkan kasus perundungan, menaikkan prestasi belajar, dan mengurangi kunjungan ke layanan psikologis terkait kesehatan mental, dengan dampak paling terasa pada siswa perempuan.
Antara juga melaporkan bahwa Norwegia menyiapkan rancangan aturan yang melarang anak di bawah 16 tahun memakai media sosial, yang dijadwalkan masuk parlemen sebelum akhir tahun.
Indonesia sebenarnya mengajarkan apa?
Koding dan AI di Indonesia berstatus mata pelajaran pilihan, bukan wajib, dan dijalankan di sekolah yang siap, menurut Antara Kalbar. Karena sifatnya pilihan, cakupannya belum merata. Angka 25 persen berarti tiga dari empat sekolah belum mengajarkannya.
“Dalam data kami, baru ada 25 persen sekolah yang mengajarkan coding dan AI.”
Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Mu’ti menyebut pelaksanaannya membutuhkan kesiapan guru. Menurut Jawa Pos, ia menekankan pelatihan harus banyak digelar agar pendidik mampu mengajarkan materi sesuai jenjang, dan ia meminta dukungan perguruan tinggi untuk itu.
Pemerintah juga mengatur soal usia. Antara melaporkan pada Maret 2026 bahwa tujuh menteri menandatangani surat keputusan bersama tentang pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta AI, mulai pendidikan anak usia dini sampai perguruan tinggi.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengaitkannya dengan prinsip “Tunggu Anak Siap” dalam kebijakan pelindungan anak di ruang digital.
“Kriteria umur dan kesiapan anak menjadi sangat penting dalam pengaturannya.”
Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
Pratikno menjelaskan, semakin muda usia anak, semakin terkontrol penggunaan teknologi, baik durasi maupun jenis kontennya. Laporan Antara itu tidak memuat batas usia per jenjang, sehingga angka batasnya belum bisa dipastikan.
Di mana kedua kebijakan bertemu?
Dari kutipan para pejabat, ada dua kesamaan. Pertama, keduanya memakai usia sebagai penentu. Norwegia menyusun aturan per kelompok umur, sementara pedoman Indonesia menempatkan umur dan kesiapan anak sebagai kriteria utama.
Kedua, keduanya menyinggung perkembangan anak: Norwegia soal tahap belajar yang bisa terlewat, Indonesia soal belajar teknologi sejak dini tanpa mengabaikan perkembangan kognitif dan karakter, seperti dirangkum Antara.
Perbedaannya ada pada titik tekan. Norwegia menutup akses lebih dulu untuk anak yang paling kecil. Indonesia membuka kesempatan sejak kelas 5 SD lewat mata pelajaran pilihan, sambil menunggu guru dan sekolah siap.
Dalam laporan yang dibaca, Norwegia membatasi pemakaian AI generatif, sedangkan Indonesia memperluas pembelajaran koding dan AI.
Sejumlah hal belum terjawab dalam sumber yang tersedia. Antara tidak menjelaskan bagaimana Norwegia menangani pemakaian di luar sekolah.
Data dampak pembatasan AI belum ada, karena aturannya baru dijadwalkan berlaku. Klaim manfaat larangan ponsel pun datang dari pemerintah Norwegia sendiri, bukan dari kajian independen.
Pegangan bagi orang tua dan guru dari kedua kebijakan
Berikut hal-hal yang bisa dijadikan pegangan, dirangkum dari pernyataan pejabat di atas:
- Usia anak menentukan seberapa ketat pemakaian teknologi, baik durasi maupun jenis kontennya, seperti disampaikan Pratikno.
- Kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung menjadi prioritas, sebagaimana alasan yang dikemukakan Støre.
- Kesiapan guru menentukan mutu pembelajaran AI, sebagaimana ditekankan Mu’ti. Orang tua bisa menanyakan ke sekolah apakah pengajarnya sudah dilatih.
- Kesiapan anak, bukan ketersediaan teknologi, yang menjadi ukuran, sesuai prinsip “Tunggu Anak Siap” yang disebut Meutya Hafid.
Kedua negara masih di tahap awal. Norwegia akan diukur dari apakah pembatasannya benar-benar memperbaiki belajar siswa, dan Indonesia dari seberapa cepat angka 25 persen itu naik dengan guru yang siap.
Hasilnya baru bisa dibaca setelah satu-dua tahun ajaran berjalan, dan sampai saat itu para orang tua hanya punya satu patokan resmi yang sama-sama dipegang kedua negara: usia dan kesiapan anak.
Apakah artikel ini membantu?
Jangan ketinggalan berita terbaru
Ikuti MelekInfo dan dapatkan update langsung di ponselmu.

Penulis
Rini AgustinArtikel berikutnya
Jadwal Sholat 2027 Jakarta dan Sekitarnya

Baca juga

Jadwal CPNS Maju ke November 2026: Apa yang Berubah dari Awal 2027?
Pemerintah berencana membuka pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada November 2026. Rencana itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi seusai rapat…
Rini Agustin

Pengangguran Turun, tapi Pekerja Informal Makin Banyak: Membaca Data BPS Agustus 2026
Tingkat pengangguran turun ke 4,75 persen, namun pekerja informal dan setengah pengangguran naik. Lulusan SMK paling sulit dapat kerja. UMP 2027 diputuskan akhir November.
Fiki Aprian

