Langsung ke konten
melekinfo

Topik trending

Ketik minimal 2 huruf. Gunakan ↑ ↓ untuk memilih dan Enter untuk membuka.

Terjemahan otomatis oleh Google

Pasar

Piala Citra FFI 2026: Bisakah Film Horor Terlaris Jadi Film Terbaik?

Ghost in The Cell karya Joko Anwar memimpin nominasi FFI 2026 setelah ditonton 3,3 juta orang. Malam puncak digelar 20 November.

Fiki Aprian3 menit baca
Lobi bioskop XXI di Living World Kota Wisata
Lobi bioskop XXI di Living World Kota Wisata. Foto: RasyaAbhirama13 via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Dua pekan lagi, tepatnya 20 November 2026, Piala Citra akan dibagikan di malam puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2026. Daftar nominasinya sudah diumumkan sejak 12 Oktober di Gedung PFN, Jakarta, dan satu nama langsung mencuri perhatian: Ghost in The Cell karya Joko Anwar.

Film horor-komedi itu bukan sekadar laris. Menurut Medcom, film ini meraup 3.376.865 penonton selama 55 hari tayang di bioskop. Kini ia memimpin daftar nominasi FFI. Pertanyaan yang menarik: bisakah film paling laris sekaligus menjadi film terbaik?

Poin penting:

  • Malam puncak FFI 2026 digelar 20 November; film yang dinilai adalah yang tayang 1 September 2025–31 Agustus 2026.
  • Ghost in The Cell memimpin dengan 12–13 nominasi (jumlahnya berbeda antarmedia).
  • Lima nomine Film Cerita Panjang Terbaik: Dopamin, Ghost in The Cell, Na Willa, Operasi Pesta Copet, dan Para Perasuk.
  • Dua sutradara yang dikenal lewat film horor, Joko Anwar dan Kimo Stamboel, masuk nominasi Sutradara Terbaik.

Daftar yang patut dicermati

Berdasarkan daftar lengkap yang dirangkum CNN Indonesia, persaingan di kategori utama cukup beragam.

Untuk Sutradara Terbaik, nomine-nya Bernardus Raka (Nobody Loves Kay), Edwin (Monster Pabrik Rambut), Joko Anwar (Ghost in The Cell), Kimo Stamboel (Abadi Nan Jaya), dan Wregas Bhanuteja (Para Perasuk).

Di kategori Pemeran Utama Pria Terbaik ada Abimana Aryasatya, Angga Aldi Yunanda, Ardit Erwandha, Marthino Lio, dan Nicholas Saputra. Sementara Pemeran Utama Perempuan Terbaik mempertemukan dua generasi: Christine Hakim dan Meriam Bellina berhadapan dengan Marsha Timothy, Shenina Cinnamon, dan Luisa Adreena.

Menurut Merahputih, 15 film panjang lolos ke tahap nominasi dari 25 film yang masuk penjurian tahap pertama.

Horor naik kelas

Selama bertahun-tahun, film horor Indonesia punya reputasi yang ganjil: paling banyak ditonton, tapi jarang dianggap serius. Banyak judul dibuat cepat, mengandalkan kaget-kagetan, dan dilupakan setelah keluar bioskop.

Nominasi FFI tahun ini memberi sinyal yang berbeda. Joko Anwar dan Kimo Stamboel, dua nama yang dikenal lewat horor dan thriller, kini bersaing di kategori sutradara paling bergengsi. Ghost in The Cell membuktikan bahwa film genre bisa laris sekaligus diakui secara artistik.

Joko Anwar sendiri menyebut masa tayang film itu sebagai “salah satu highlight dalam karier kami berkarya”. Kalau film ini menang Film Terbaik, itu akan menjadi pesan kuat bagi industri: penonton dan juri tidak harus berada di dua kubu yang berbeda.

Film keluarga yang mencuri perhatian

Di sisi lain ada Na Willa, film keluarga yang diadaptasi dari novel. Film ini disutradarai Ryan Adriandhy, yang sebelumnya dikenal lewat film animasi Jumbo, kini beralih ke film dengan pemeran manusia. Na Willa menjadi salah satu pesaing terkuat dengan jumlah nominasi terbanyak kedua.

Kehadirannya mengingatkan bahwa film Indonesia tidak hanya soal horor. Penonton keluarga, yang sering terlupakan, ternyata juga lapar akan cerita yang hangat dan dekat dengan keseharian.

Festival yang ingin jadi cermin

FFI 2026 mengusung tema “Askala Karya Sinema Indonesia”. Saat peluncuran pada Juni lalu, Ketua Umum Komite FFI 2026 Ario Bayu menyinggung kepercayaan penonton terhadap film lokal, seperti dikutip GNFI.

“Ini adalah tanda bahwa penonton Indonesia semakin percaya pada cerita-cerita yang lahir dari negeri ini.”

Ario Bayu, Ketua Umum Komite FFI 2026

Ketua Bidang Penjurian Budi Irawanto menegaskan bahwa hasil penjurian harus mencerminkan standar tertinggi dari sisi teknis, artistik, dan profesional. Itu janji yang akan diuji pada 20 November.

Menurut saya, FFI tahun ini menarik justru karena tidak ada pilihan yang “aman”. Memenangkan film terlaris berisiko dianggap mengikuti pasar; memenangkan film yang kurang dikenal berisiko dianggap elitis. Apa pun hasilnya, perdebatan itu sehat. Itu tanda film Indonesia sedang cukup kuat untuk diperdebatkan secara serius.

Foto utama: Lobi bioskop XXI di Living World Kota Wisata. Foto: RasyaAbhirama13 via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Bagikan artikel ini:

Jangan ketinggalan berita terbaru

Ikuti MelekInfo dan dapatkan update langsung di ponselmu.

Penulis

Fiki Aprian

Artikel berikutnya

Uji Coba Batal, Piala Asia Ditunda: Timnas Indonesia Mau Main Lawan Siapa di November?